Konsep Media Tradisional
Media tradisional adalah media lokal yang memiliki fungsi sebagai instrumen pemeliharaan identitas lokal. Namun saat ini keberadaannya semakin terpinggirkan di tengah komunitas pendengarnya. Peran dan fungsinya semakin terdegradasi. Untuk itu perlu sebuah intrevensi dalam mengeluarkan kembali eksistensinya. Harus ada program aksi dan intrevensi dalam mewujudkan hal itu. Salah satunya adalah dengan mendekontruksi media ini dari media penyebar mitos dan pemelihara identitas budaya lokal ke arah media instrumen difusi inovasi. Media tradisional harus mampu menjadi media general spectacle dari informasi kontemporer yang bersifat lintas budaya.
Sebagai instrumen diseminasi informasi di pedesaan yang diharapkan berdampak pada terjadinya pemberdayaan masyarakat di segala bidang, posisi media tradisional sangat strategis. Kemampuan media ini menyerap aspirasi, harapan dan keinginan masyarakat untuk kemudian diolah dan dikemas dalam bagian narasi cerita tidak perlu diragukan lagi. Dalam sajian pertunjukkan media tradisional di samping cerita inti (folklore) yang ditampilkan, seorang sutradaa dengan luwes dapat menyelipkan pesanpesan pembangunan (inovasi) tanpa mengurangi makna cerita. Fleksibilitas itulah merupakan keistimewaan dari media ini. Pada satu sisi media ini adalah merupakan instrumen penguatan identitas budaya, adat, tradisi, norma lokal suatu komunitas. Tapi pada sisi lain media ini bisa menjadi sarana hiburan (spectacle) yang memikat. Sinergi sebagai instrumen penguat adat/tradisi lokal dan sebagai media hiburan (spectacle) inilah yang menjadikan mdia tradisional dapat dijadikan sarana untuk memproteksi warga masyarakat lokal dari terjangan arus informasi global yang dapat mengikis kebanggaan pada identitas budaya aslinya
si pesan yang cenderung menggali kebiasaan-kebiasaan atau norma lokal dan adalah merupakan refleksi dari realitas kondisi sosial, ekonomi, budaya lokal dikemas secara simbolis menjadi jalinan cerita yang atraktif, memikat, dan menghibur. Secara psikologis hal ini akan menyebabkan terjadinya ikatan kelompok yang semakin rekat (kohesif). Rakyat menganggap bahwa media tradisional dapat memotret kondisi dan problema riil, dapat mengartikulasikan aspirasinya sekaligus mampu mengkritisi kinerja elit lokal serta menjadi media resolusi konflik.
Dalam komunikasi tradisional isi lebih banyak ditujukan pada kelompok dan bukan individu. Hal ini tepat dan memudahkan penerimaan pesan secara bersama/serempak pada anggota suatu komunitas. Karena apabila kelompok sudah sepakat meenrima suatu pesan/inovasi, maka hal itu akan mempengaruhi keputusan individu. Hal itu disebabkan karena dalam komunitas tradisional individu cenderung conform pada lingkungannya. Dalam kaitan dengan hal ini maka sebagai medium komunikasi kesenian tradisional memiliki ciri khas yaitu berbentuk teateral (jawa: Sampakkan). Dalam setiap pementasan antara aktor dan penonton tejadi komunikasi dua arah (saling bersahut/merespon/memberi feedback). Hal ini dimungkinkan karena dalam media tradisional ada prinsip bahwa penonton adalah bagian dari pentas itu sendiri (Nuning Wahyuniati, 1985).
Dalam kondisi teateral ini (saling merespon) maka pemain media tradisional akan dengan cepat mengetahui tanggapan/reaksi dari komunikannya (feedback audiens-nya). Pesan yang disukai akan direspon dengan tepuk tangan atau suasana tercekam akibat suatu adegan yang dramatis. Sebaliknya, adegan yang jelek dan tidak diterima akan mengundang reaksi negatif seperti cemoohan, celetukan atau reaksi-reaksi spontan negatif lainnya. Dengan cepatnya umpan balik audiens dapat dibaca oleh "aktor" media tradisional media tradisional, maka pemain media tradisional dapat mengontrol dan mengembangkan permainannya. Sehingga pesan yang disampaikannya (khususnya inovasi) dapat lebih disampaikan secara luas, mendalam dan merasuk ke pemikiran penontonnya. .
Kesimpulan :
Sebagai instumen komunikasi di tingkat lokal, media tradisional memiliki fungsi dan posisi yang strategis. Media ini memiliki kekuatan yang tidak dimiliki media massa modern. Disamping karena faktor isi pesannya dan cara penyajiannya yang berorientasi pada dinamika kehidupan komunitas, juga karena media ini telah tumbuh dan berakar kuat di tengah masyarakatnya. Kondisi ini berdampak pada tingkat atensi yang tinggi publik lokal terhadap informasi yang dilontarkan. Pada posisi inilah maka desiminasi inovasi terhadap audiens pada tingkat lokal relatif mudah dilakukan. Namun tidak dapat terbantahkan bahwasannya posisi media tradisional saat ini berada pada sistuasi yang memprihatinkan dan terpinggirkan. Gencarnya arus budaya asing yang merebak lewat media massa modern mengancam eksistensi media tradisional. Dominasi informasi budaya luar melalui media massa modern kian mengerosi daya pikat dan daya saing media itu. Kondisi ini kalau dibiarkan belarut-larut tidak menutup kemungkinan akan menjadikan media tradisional semakin terdegradasi fungsi dan perannya di tengah masyarakat untuk kemudian hilang dan musnah eksistensinya. Untuk itu perlu adanya intervensi dan program aksi dalam rangka mengembalikan kredibilitas dan potensi media tradisional. Eksistensi media tradisional harus dibangkitkan
Sumber : https://media.neliti.com/media/publications/115595-ID-revitalisasi-media-tradisional-sebagai-i.pdf
Comments
Post a Comment